Punah Resah

Bersahabat dengan resah
Mengeluhkan setiap kesah disudut ruang gelapnya
Kau taruh semua tanya tanpa menitipkan jawab..

Bagai getar dawai yang tak bernada
Rindu ku tak bersua
Mengikis keteguhan untuk bertahan
Sepertinya aku mulai lelah dibelai bayang..

Kadang suka ku datang memupuk semu harapan
Namun meretas dalam duka yang dikumpulkan ketiada jeraan cinta
Seolah hati telah siap berlapang menerima getir kenyataan..

Sukar kaki bergetar
Menunggu habis masa dipenghujung liku jalan
Biar..
Biar saja punah semua resah
Hingga tak kujumpai lagi kerinduan yang terabaikan..

Iklan

Guguran Rindu

Mungkin takdir hati adalah mendamba hati yang lain untuk kemudian menyatukan apa yang disebut kebanyakan orang dengan sebutan cinta.

Perasaan ini tumbuh tanpa perlu dilatih, secara diam-diam mencipta kerinduan. Rindu untuk bertemu, rindu untuk menyapa, rindu untuk bercerita dan mungkin masih banyak lagi kerinduan lainnya untuk mencurahkan hasrat dihati.

**

Sore itu terasa sejuk, aku duduk diantara orang-orang yang juga sedang asik menanti senja dengan segala aktivitas mereka masing-masing. Aku menoleh ke sekitar ku, sesekali menatap langit tapi kemudian pandangan ku tertuju pada sebuah dedaunan yang kupikir sangat erat dengan ranting-rantingnya walaupun angin selalu berusaha mengusik mereka.

Aku terhanyut oleh suasana kala itu, aku kembali memikirkan perasaan ini, rasa dimana rindu seolah seperti daun-daun itu, tapi sedikit berbeda. Mungkin awalnya perasaan ini hanya sepucuk daun yang lama kelamaan tumbuh satu demi satu disetiap rantingnya, iya ranting itu seperti ruang-ruang dihati sampai akhirnya mereka bertumbuh lebih banyak menutupi ranting, hingga tiba waktunya dimana ia harus menguning dan tidak kuat menahan hembusan angin, gugurlah mereka satu persatu.

Rindu ini mungkin seperti itu, aku hanya bisa mengumpulkannya sendiri dan hampir membuatku sesak karena mungkin ia sudah memenuhi seisi ruang hatiku.

Menguning dan siap jatuh oleh situasi yang membuat ku harus menerima jika dirinya tak mencintai ku, rindu-rindu ini hancur berkeping-keping entah akan dibawa pergi kemana oleh angin.

**

Cinta memang tidak pernah bisa dimengerti, terkadang aku merasa ini hanyalah sebuah permainan teka-teki yang mengira-ngira sendiri akan seperti apa jadinya nanti. Ya, katakanlah rindu ini tak bertuan, karena tak bisa kupersembahkan kepada dia seseorang yang mungkin tidak menginginkannya.

Huffftt..

Kira-kira kemana angin akan membawa guguran ini? Mungkinkah akan sampai melalui jendela rumahnya? Atau sekedar lewat dihadapannya saja? Atau..
Ahk.. Sudahlah tidak perlu difikirkan.

Tapi mungkin ada satu hal lagi yang aku tau, bahwa perihal gugur juga akan hadir semi untuk menghadirkan lagi pucuk-pucuk baru yang akan selalu sama disetiap prosesnya, kembali menguning dan kemudian jatuh lagi.

Biar saja, kalau memang rindu ini harus seperti itu, mungkin ia tetap akan kembali hadir untuk mengisi ruang-ruang hati, kelak juga kan ada masa dimana ia berhenti untuk bertumbuh. Untuk saat ini bukannya aku tak mau menyudahi, barangkali mencabut akar kerinduan itu tapi aku hanya ingin menikmatinya dulu sampai habis rasaku mengenali rindu itu sendiri.

Diambang Waktu

​Mengulas haru tentang semu..

Terbesit rasa yang tak bisa ku aku..

Diambang waktu masih menunggu..

Tak kunjung nyata untuk terwujud..
Ada batas yang tak terlampau laku..

Mungkin hanya berkhayal agar kelak kan bertemu..

Dua insan meragu..

kian terbunuh waktu, yang tak bisa takluk untuk saling mengadu ..

Kita & Kegagalan

Kita mengadu pada haru birunya suasana
Membisu diantara suka dan duka
Masing-masing nyanyikan lagu sendu
Cinta yang membawa insan berseteru ..

Kita bagai serdadu yang menyerah sebelum bertarung ..
Bisik kekalahan yang didengarkan
Mengalah pada kecewa yang lebih dulu bersemayam ..

Bergetar kaki kita berdiri diantara penyesalan
Sebelum akhirnya berserah pada pelarian
Kita hanya dua insan tanpa kesan
Jangan eluhkan sekali lagi kegagalan kita..

Memilih Diam

Seperti derap kaki tentara
Suara hati bergemuruh seolah langit berkelabu ..
Bergumam sendiri pada nurani
Hanya butir-butir angan yang ikut berjatuhan seperti hujan di jalan tadi..

Kau muram dibalik mendung awan
Mengamati langit diujung sana
Berharap kelamnya tersapu sinar mentari ..
Namun tak berarti kau sematkan senyum berseri ..

Mungkinkah semesta menyelaraskan apa yang kau rasa tanpa untaian kata??
Atau kau hanya bisa mengamatinya tanpa bicara ..

Tidak kah kau lelah??